GAME ON LINE AND PS2, THE DANGEROUS INFLUENCE…

Posted: 07/02/2010 in DARI SAYA

Pada tulisan kali ini saya mencoba untuk sedikit mencermati hal yang sedang berkembang saat ini yang berhubungan dengan dunia anak – anak, yaitu PERMAINAN / GAME. Setelah beberapa waktu yang lalu booming PS dan PS2 terjadi, kini meskipun tetap menjadi pilihan, posisi PS dan PS2 mulai tergantikan oleh GAME ON LINE di INTERNET. saat sekarang ini begitu mudahnya mereka menyalurkan energi besar yang mereka miliki dengan bermain dengan memanfaatkan tehnologi canggih INTERNET yang keberadaannya begitu menjamur dimana – mana. Dengan hanya mengeluarkan kocek sedikit yang berkisar antara Rp. 3000,- sampai dengan Rp. 4000,- , meraka dapat duduk di depan komputer di WARNET selama 1 jam dan berkonsentrasi penuh terhadap berbagai macam jenis permainan ON LINE yang dapat juga berinteraksi dengan teman sebaya mereka yang lain. Bahkan ada beberapa WARNET yang menyediakan paket permainan dengan harga yang murah ( Rp. 5000,- s/d Rp. 7000 ) untuk 2 jam permainan. Saya patut merasa iri terhadap anak – anak jaman sekarang. Jika dibandingkan dengan dunia saya waktu kecil dulu, rasanya saya sangat jarang memiliki kesempatan untuk dapat melihat dan memegang sebuah kotak yang bernama KOMPUTER ( apa saya aja kali ya yang begitu? ). Begitu mudahnya meraka bersentuhan dan berinteraksi dengan tehnologi canggih yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.
Namun tentu saja interaksi anak – anak tersebut menimbulkan sebuah konsekwensi yang sangat besar bila kita sebagai orang tua ( yaaa ketauan udah tua n jadi orang tua ), tidak memberikan ketentuan – ketentuan yang EXTRA KETAT dan dasar – dasar filter yang menjadi tameng mereka terhadap pengaruh buruk saat berinteraksi dengan INTERNET. Lengkapnya, BEGINI CERITANYA

Suatu hari sekitar jam 5an saya mencuci motor dekil saya di sebuah pencucian dekat rumah yang di situ terdapat penyewaan PS2. Sambil menunggu motor saya dicuci, saya duduk di sebelah penyewaan PS2 tersebut dan memperhatikan 2 anak yang sepertinya kakak beradik ( sang kakak kira2 berumur 9 tahun dan si adik kira2 berumur 6 atau 7 tahun ) yang memainkan sebuah permainan ACTION ( klo ga salah tentang NARUTO ). Kenapa saya memilih untuk memperhatikan 2 anak tersebut? Pasalnya di antara pemain yang lain, merekalah yang paling ribut memainkan permainan tersebut. Saya akan menggambarkan situasi saat itu di bawah ini :

KAKAK : (sambil menekan tombol / stik dengan sekuat tenaga dan badan mengguncang – guncang) waaah payah luh !!! (ngomongnya ke monitor) , hajar, hih, uuu, eeee monyet nih !!!
ADIK : (sambil merengek) gantian dong !!!
KAKAK : Diem dulu lu ah !!!! (matanya tetep lengket ke monitor)
ADIK : Lu kan udah lama mainnyaaaaaaaa (tetep merengek)
KAKAK : Iya tapi kan gua belon mati, tungguin ampe mati dulu (matanya tetep ke monitor, tangannya super sibuk mencet – mencet buat memukul, menghindar, keluarin ilmu dll ), yeee monyet, bangsat, anjing luh !!! (kata – kata ini yang ini ditujukan ke monitor)

Saya akhirnya pindah duduk dan menjauh dari situ, pusing dengernya. Masih banyak kata – kata yang lebih vulgar (juga porno) lagi yang keluar dari sang kakak dan akan direkam oleh sang adik dalam memorinya, untuk kemudian akan dikeluarkan sebagai senjata pamungkas saat sang adik terdesak saat mengalahkan musuh2nya dipermainan yang lain dalam hari – hari ke depan nanti.
Di lain hari, modem saya sedang rusak dan harus ke WARNET untuk suatu pekerjaan yang rada penting. Saat itu ba’da asar, anak saya yang pertama laki – laki berusia 8 tahun merengek minta ikut. Akhirnya saya ajak dia ke WARNET di sekitar rumah. Saat itu hari Sabtu, di depan WARNET sudah berjejer banyak sepeda dan sekitar sepuluhan pasang sandal ukuran anak – anak. WARNET PENUH!!! Tapi masih ada 1 unit yang kosong, saya sebenarnya ga mau ngerjain pekerjaan dalam kondisi yang riuh rendah begitu, tapi karena sudah sore akhirnya saya dan anak saya nongkrong juga di situ.
Ada beberapa anak SMP yang masih berseragam dan juga anak – anak kecil sedang memainkan GAME ON LINE. Sambil mengetik, kuping saya (dan anak saya) menangkap suara – suara yang berasal dari anak – anak tersebut. Suara – suara yang bahkan lebih vulgar dari kata – kata yang keluar dari anak di PS2 beberapa hari sebelumnya. Kata – kata seperti NG**T*T, A*J**G, B***S*T sepertinya adalah kata – kata yang wajib keluar yang diposisikan sebagai senjata pamungkas dan bala bantuan untuk memenangkan sebuah permainan. Belum lagi GAME yang dimainkan adalah GAME YANG penuh dengan percikan darah, gambar – gambar seronok yang terus ada selama GAME dimainkan.
Tepat! Akhirnya anak saya juga merengek untuk diijinkan bermain, “Main apa si?” Tanya saya. “ Apa aja, terserah, pilihin aja” Kata anak saya. Akhirnya saya ijinkan dan saya carikan sebuah permainan yang menurut saya aman untuk anak saya. Sebelum main saya bilang ke dia “ Dengerin orang – orang itu ngomong, saya ga mau omongan – omongan itu keluar dari mulut kamu selama kamu main!!!” “ Sekali aja kata – kata semacam itu keluar dari mulut kamu, kamu berhenti main, kita pulang dan tunggu hukumannya di rumah nanti” “ Iya” katanya sambil tersenyum senang karena diijinkan bermain.

Begitulah ceritanya, sebuah tehnologi ternyata berpengaruh sangat besar terhadap prilaku manusia, terutama anak – anak. Apalagi saat ini para orang tua juga tidak mau kalah dengan anak – anak mereka dengan hadirnya situs FACEBOOK. FACEBOOK, secara sadar atau tidak kini telah menjadi MESIN PENGGILAS WAKTU YANG SANGAT EFEKTIF. Apalagi terdapat pula permainan semacam MAFIA WARS, yang juga banyak dimainkan oleh banyak pengguna FACEBOOK tersebut (termasuk orang tua, tapi saya ga mainin kok, beneran!), lengkap sudah persaingan orang tua dan anak.

Kebanyakan kita sebagai orang tua memandang anak – anaknya adalah anak yang polos, lugu dan penurut dan tidak membayangkan bahwa mereka akan menjadi sebuah pribadi yang luar biasa berubah ketika bersentuhan dengan lingkungan luar termasuk INTERNET. Jika terjadi sebuah kesalahan/keanehan yang kita dengar tentang mereka, kita cenderung langsung melakukan proteksi yang berlebihan kepada mereka tanpa melihat apakah itu terjadi. “ Anak saya ga mungkin begitu, di rumah penurut ko, sholatnya juga rajin” begitu biasanya kita membela mereka. Tapi begitu hal tersebut kita lihat dan dengar dengan mata, kepala dan telinga kita sendiri, kita pasti merasa SHOCK, dan ini pun pernah terjadi pada anak saya.

JAGALAH DIRI DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA!!!! Sebagai orang tua, apalagi di saat seperti ini, kita seharusnya membuka mata lebar- lebar, memasang telinga di mana – mana untuk memantau aktifitas apa yang dilakukan anak – anak kita. Apa yang mereka lakukan? Sama siapa? Kemana? Jam berapa? Dan pertanyaan – pertanyaan lain seharusnya menjadi standar operasional prosedur dalam memberikan perhatian kepada mereka. Selain itu, hal yang pertama dan utama yang menurut saya harus dilakukan adalah memberikan EXPOSURE hal – hal yang baik kepada mereka sesering mungkin, agar EXPOSURE tersebut dapat melekat dimemori mereka dan membentuk sikap mental, watak dan prilaku mereka. Saya percaya jika hal tersebut dilakukan, apapun yang mereka lakukan di luar sana, hanya akan berpengaruh sesaat dan tidak akan merubah pribadi mereka, dan akan terjadi SELF LIMITED DESEASE jika pada penyakit atau SELF PURIFICATION jika terjadi pada air. Kenapa? Karena frekwensi EXPOSURE yang mereka terima didalam rumah lebih lama bila dibandingkan dengan yang mereka terima di luar sana, mereka akan menyadari bahwa nilai – nilai yang mereka dapat di luar sana tidak sama dengan yang didapat di rumah. Dan yang lebih penting dari itu semua, saya kutip kalimat yang saya dapat dari kajian tentang mendidik anak. Sebuah kesimpulan dari kajian tersebut, kira – kira kalimatnya begini
“ KESHOLEHAN ORANG TUA AKAN BERPENGARUH TERHADAP KESHOLEHAN ANAK “.

ALANGKAH BERATNYA MENJADI ORANG TUA DAN ALANGKAH SUSAHNYA MENJADI ORANG TUA YANG SHOLEH
Semoga kita diberikan oleh ALLAH TA’ALA kekuatan dan kemudahan untuk menjadi orang tua yang Sholeh. Dan semoga pula kita diberikan pula kekuatan dan kemudahan untuk mendidik anak – anak kita menjadi anak yang SHOLEH. AMIN.

Sumber : Pengalaman pribadi penulis sebagai anak dan sebagai orang tua

Komentar
  1. dunkom mengatakan:

    Salam kenal kembali, Link anda sudah terpasang di blog saya http://dunovteck.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s