menyikapi pemimpin yang zalim

Posted: 12/11/2009 in ISINYA INFO

SUMBER DI SINI juga DI SINI

PARA PEMIMPIN yang adil dan bijaksana adalah dambaan kita semua. Namun, apakah yang terjadi bila pemimpin kita adalah orang yang zalim dan semena-mena? Berbagai macam respons (tanggapan) muncul dari masyarakat kita ketika menghadapi ujian ini. Ada yang berdiam diri saja tanpa adanya empati (perhatian), di sisi lain ada juga yang beramai-ramai menga-dakan aksi unjuk rasa yang terkadang menjurus kepada tindak anarkis.
Ahlus Sunnah sebagai orang yang terbaik dalam berinteraksi kepada Alloh SWT dan sesama manusia, harus mempunyai sikap dalam menghadapi cobaan ini. Lantas bagaimanakah sikap mereka? Untuk itu kami coba meng-hadirkan tulisan ini ke hadapan saudara pembaca agar kita semua bisa me-neladani sikap yang diwariskan oleh para pendahulu kita yang sholih, lantar-an “Tidak akan bisa baik akhir umat ini kecuali dengan hal yang bisa membuat baik generasi awalnya.” Wallohu Waliyyuttaufiq.

Hukum Asal Ketaatan Kepada Pemimpin

Alloh SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ …. ﴿٥٩﴾

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul(Nya), dan ulil amri di antara kamu…. (QS. an Nisa’ [4]: 59)
Rosululloh SAW bersabda dalam hadits Hudzaifah bin al-Yaman RA:
“Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin, mereka tidak memakai petunjuk-ku, tidak pula sunnahku, dan akan ada nanti di antara mereka sekelompok orang yang berhati setan namun bertubuh manusia.”
Hudzaifah RA berta-nya: “Wahai Rosululloh, bagaimanakah sikapku bila aku jumpai hari itu?” Rosululloh SAW menjawab:
“Taatilah amir (pemimpin) walau punggungmu dipukul, hartamu diambil, maka tetap taatlah.” (HR. Muslim: 1847)

Akan tetapi, ketaatan ini harus dengan syarat tidak bertentangan dengan perintah syari’at. Jika bertentangan maka syari’atlah yang harus diutama-kan. Berdasarkan hadits riwayat al-Bukhori dalam kitab Shohih beliau no. 7145: “Ketaatan hanya dalam perkara yang baik.”
Imam an-Nawawi berkata: “Ulama bersepakat bahwa ketaatan bagi penguasa hukumnya wajib bila bukan dalam hal maksiat. Mereka juga ber-sepakat bahwa tidak ada lagi ketaatan bila dalam hal yang maksiat.” (Sya-rah Shohih Muslim: 12/532)

Hal yang Perlu Diketahui

Saudaraku, mungkin sebagian dari kita masih belum mengetahui ada apa sebenarnya di balik sikap zalim para penguasa terhadap rakyatnya? Ter-nyata, sebab zalimnya penguasa bersumber dari kemaksiatan yang dilakukan oleh rakyat itu sendiri sebagai bentuk balasan dari Alloh SWT atas mereka. Alloh SWT berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ﴿٣٠﴾
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syuro [42]: 30)

Dari Qotadah RA, beliau berkata: “Bani Israil pernah berkata: ‘Wahai Robb kami, Engkau di langit dan kami di bumi, lantas bagaimanakah kami tahu ridho atau murka-Mu?’ Alloh berkata: ‘Jika Aku ridho akan Kujadikan pemimpin kalian dari orang-orang yang terpilih, dan bila Aku murka akan Kujadikan orang-orang yang jelek dari kalian sebagai pemimpin.’” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Naqdhu Utsman bin Sa’id: 303)

Oleh karenanya, kita harus memperbaiki diri, memperbanyak taubat dan istighfar sebab kezaliman tersebut sebenarnya hanya merupakan bentuk peringatan Alloh SWT kepada kita.

Di Antara Sikap Para Pendahulu Kita

Stop demonstrasi! Sungguh banyak hadits yang memerintahkan kita untuk bersabar tatkala penguasa berbuat zalim. Rosululloh n memerintah kita agar tetap mengingkari(2) apa yang tidak baik dari penguasa tadi (secara lisan atau hati) serta tetap memberikan nasihat dengan cara yang tertutup(3) yang diharapkan dengannya lebih bisa diterima. Ulama salaf yang mewarisi para nabi juga melakukan hal yang sama ketika menghadapi situasi semisal di atas. Di antara mereka adalah:

1.Al-Fudhoil bin ’Iyadh RA, beliau mengatakan: “Andai aku mempunyai do’a yang mustajab (pasti terkabul) tentu aku akan memperuntukkannya bagi penguasa.” “Wahai Abu Ali, coba terangkan maksudmu pada kami,” tanya para sahabatnya. Al-Fudhoil meneruskan: “Bila aku berdo’a untuk diri-ku maka kebaikan tidak akan sampai pada orang lain, namun bila aku be-rikan untuk penguasa lalu ia menjadi baik maka akan menjadi baiklah rakyat dan negeri.” (Syarhu as-Sunnah kar. Imam al-Barbahari: 114)

2.Hasan al-Bashri RA tatkala didatangi oleh sekelompok orang yang me-nanyakan perihal sikap mereka pada waktu terjadinya tragedi Yazid bin al-Muhallab(4), beliau memerintahkan agar mereka semua diam di rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Setelah itu beliau berkata: “Demi Alloh, sean-dainya manusia sabar bila diuji dengan para pemimpinnya (zalim), nisca-ya tidak lama lagi Alloh SWT akan mengangkat cobaan tadi dari mereka. Namun mereka langsung menyikapinya dengan pedang maka mereka pun dikuasai oleh pedangnya. Dan demi Alloh, sungguh tidaklah mereka mendatangkan hal yang lebih baik saat ini.” (asy-Syari’ah kar. Imam al-Ajurri, nukilan dari Mu’amalatul Hukkam kar. Abdus Salam Bar-jas: 64)

3.Imam Ahmad bin Hanbal , yang sikap beliau mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita(5) (lihat dalam Ushul as-Sunnah karangan beliau poin yang ke 33-34).

Dan satu hal penting lagi bahwa keyakinan untuk bersikap seperti ini te-lah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari dahulu hingga kini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam an-Nawawi di atas. Bila anda membuka hampir seluruh literatur klasik yang membahas tentang aqi-dah, niscaya anda akan dapati ternyata sikap yang ditunjukkan mereka ada-lah sama dan satu.

Di Antara Syubhat yang Ada

1.Sikap yang ditunjukkan Ahlus Sunnah seakan lembek, dan tidak berefek.
2.Pemberontakan Abdurrohman bin Asy’ats, dan Sa’id bin Jubair pada zaman tabi’in.
3.Hadits Rosul n hanya untuk pemimpin yang menegakkan syari’at Islam seperti pada zaman dahulu.

Jawaban:
1.Tidak ingatkah kita dengan sabda Rosululloh n bahwa segala sesuatu apabila disertai kelembutan (bukan lembek) akan menjadi indah?(6) Apakah memang benar sikap yang ditunjukkan oleh Ahlus Sunnah ini tidak ada pe-ngaruhnya? Kalaulah benar, apakah semua yang tampaknya berefek namun tidak sesuai dengan syari’at lantas menjadi benar dan harus diikuti? Jika demikian niscaya hilanglah tujuan kita yang utama dalam beragama itu sendiri, yaitu mengikuti Rosululloh n dalam semua perilaku, ucapan, dan sikapnya dalam beribadah kepada Alloh SWT.

2.Memang benar, dahulu dua tokoh tersebut mengadakan pemberontakan terhadap al-Hajjaj bin Yusuf, namun kita perlu menyimak penjelasan Imam an-Nawawi v berikut: “Qodhi ’Iyadh berkata: ‘Pemberontakan ini terjadi sebelum adanya kesepakatan antara ulama bahwa tidak boleh memberontak atas mereka (penguasa).’” (Syarah Muslim kar. Imam an-Nawawi: 12/541)
Dan kalaulah ijma’ ini tidak dapat diterima maka kedua tokoh di atas atau yang selainnya bukanlah orang maksum (terjaga dari dosa) yang wajib diikuti.

3.Ini harus dikembalikan kepada definisi negara Islam itu seperti apa. Juga apa yang diinginkan dari istilah menegakkan syari’at. Apakah semisal rajam dan potong tangan? Kalau ini yang diinginkan maka perlu ditinjau ulang. Sebab yang ada, Rosululloh n hanya memberi batasan ketaatan selama pengu-asa tidak menampakkan kufur yang nyata, bukan karena takwil, dan dia juga masih menegakkan sholat.(7)

Sebuah Renungan
Saudara pembaca yang semoga selalu dirahmati Alloh SWT, ketahuilah sesungguhnya tidak ada perintah yang paling baik melainkan perintah Alloh SWT dan Rosul-Nya. Bila kita melihat kekejaman dan sikap semena-mena pe-mimpin maka sikap yang paling bagus adalah sikap yang telah Alloh SWT dan Rosul-Nya perintahkan kepada umat ini, tidak yang lainnya. Maka siapa saja yang merasa bahwa ada sikap yang lebih cocok daripada apa yang telah Alloh SWT dan Rosul-Nya tunjukkan, ketahuilah bahwa keadaan orang ini sama dengan apa yang telah digambarkan oleh Alloh SWT dalam Surat al-Ba-qoroh [2]: 61 tentang Bani Israil:
…. قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي خَيْرٌ ۚ ٦١﴾
…. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai peng-ganti yang lebih baik? …. (QS. al-Baqoroh [2]: 61)
Wallohu A’lam.

(2) Berdasarkan HR. Muslim: 1854.
(3) Berdasarkan hadits ’Iyadh bin Ghonam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad 3/403404,
  dishohihkan alAlbani dalam Zhilal alJannah:1096.
(4) Nama lengkapnya adalah Yazid bin alMuhallab bin Abi Shufroh,
 salah satu gubernur pada zaman Kholifah Sulaiman bin Abdul Malik, yang mengadakan pemberontakan
  di zaman Yazid bin Abdul Malik yang akhirnya tewas terbunuh oleh pasukan Maslamah bin Abdul Mali. 
(Lihat dalam asSiyar:5/413)
(5) Yaitu tidak boleh memberontak dan memerangi penguasa yang zalim. Barang siapa yang berbuat demikian
  maka ia adalah seorang mubtadi’ (pengadaada dalam urusan agama) yang menyimpang dari jalan sunnah.
(6) HR. Muslim: 2594, dari Aisyah s.
(7) HR. Muslim: 1854, lihat juga dalam Zhilal alJannah Fi Takhrij asSunnah kar.Ibnu Abi ’Ashim: 1077,
 dengan redaksi yang berbeda.

Komentar
  1. ade mengatakan:

    mohon izin share. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s