kontroversi menkes

Posted: 25/10/2009 in DARI SAYA

Ini bukan masalah rendahnya posisi Menkes yang baru sebelum beliau diangkat menjadi Menkes di Kabinet SBY saat ini. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih adalah seorang staf, beliau harus dan akan berkata ” SIAP “, jika perintah datang. Perkara apakah dia memiliki catatan buruk ( tentang NAMRU ) atau baik adalah masalah yang tidak seharusnya menjadi ganjalan bagi dirinya untuk menerima “beban” yang harus beliau tanggung dalam 5 tahun ke depan. Bahkan seharusnya beliau membutakan mata dan menulikan telinga terhadap polemik yang beredar di luar arena, agar beliau dapat mengeksplorasi kemampuan diri dan jajaran yang dipimpinnya untuk menghadapi masalah – masalah kesehatan yang belum tuntas sepeninggal dr. Fadillah Supari.

Bagi kalangan praktisi Kesehatan Masyarakat, pengangkatan dr. Endang sebagai “Jendral” dengan pangkat “Kolonel” di jajaran Departemen Kesehatan membawa angin segar perubahan paradigma kesehatan di Indonesia. PARADIGMA SAKIT yang selama ini dipraktekkan lebih didominasi upaya kuratif yang melulu berhubungan dengan obat dan penyakit, sehingga dengan perubahan pemimpin dengan latar belakang MASTER dan DOKTOR di bidang Kesehatan Masyarakat , dr. Endang Rahayu Sedyaningsih diharapkan akan banting stir beralih kepada PARADIGMA SEHAT melalui upaya promotif dan preventif yang akan bermain di wilayah penyebab dan lingkungan agar tidak berkembang menjadi penyakit. Jika kita sejenak mundur kebelakang, perubahan paradigma tersebut sebenarnya telah didengung – dengungkan pada masa Depkes berada di bawah Komando dr. Sujudi yang dikenal lewat “INDONESIA SEHAT 2010”. Namun entah masalahnya di mana, sehingga perubahan paradigma tersebut seakan jalan di tempat dan cenderung kembali kepada PARADIGMA SAKIT.

Menyambung kepada dr. Siti Fadillah Supari, Menkes yang dikenal dan dituduh dengan desertasi plagiat ( entah terbukti atau tidak ) “TELOR DADAR ( ATAU TELOR ASIN ?)” pun adalah seorang staf, beliau melakukan hal yang sama dengan Menkes penggantinya saat ini untuk berkata “SIAP”, saat dirinya ditunjuk oleh SBY untuk menduduki Komandan tertinggi Departemen Kesehatan. Banyak orang meragukan kepimpinan beliau ( terutama praktisi kesehatan masyarakat ) dengan latar belakang “TELOR DADAR ( ATAU TELOR ASIN? )” nya tersebut untuk mengatasi masalah – masalah kesehatan yang ada di Indonesia yang memiliki masalah kesehatan umum yang terjadi di negara – negara berkembang, yaitu DOUBLE BURDEN ( penyakit menular tinggi, penyakit tidak menular menyaingi ).
Pada masa kepemimpinan beliau muncul berita menarik dan heroik tentang keberaniannya menantang Amerika Serikat yang diwakili keberadaan NAMRU dengan aktifitasnya dibidang penelitian kesehatan ( flu burung ) di Indonesia yang “DILARANG DIGANGGU”, yang sangat kebetulan sekali saat itu dr. Endang ( Menkes saat ini ) memiliki hubungan intim dengan NAMRU, sehingga beliau kena skorsing oleh dr. Siti fadilah Supari.

Kepimpinan adalah sebuah hal yang unik. Seharusnya memang RIGHT MAN ditempatkan pada RIGHT PLACE dan RIGHT TIME, namun begitu banyak terjadi sebuah unit kerja dipimpin oleh WRONG MAN pada WRONG PLACE dan WRONG TIME. Apalagi jika ini dikaitkan dengan ranah politik, hal seperti itu sangat lumrah terjadi, bahkan Amerika pernah dipimpin oleh seorang bintang film ( Ronald Reagan ) dan saat ini Mr. Arnold Swazenegger ( susah nulisnya ) pun menjadi Gubernur di salah satu negara bagian di Amerika Serikat. Yang terpenting adalah bahwa seorang pemimpin dengan latar belakang apapun seharusnya belajar dan memiliki kemampuan manejerial yang kuat, agar dapat memobilisasi jajarannya untuk berfungsi sesuai dengan tugas pokoknya, dan mau tidak mau harus diakui kemampuan itu dimiliki oleh dr. Fadilah Supari. Selain itu, upaya perubahan Paradigma Sakit menjadi Paradigma Sehat tercermin dari perubahan nama yang terjadi di masa kepemimpinan beliau ( Permenkes No. 1575/2005 ) sebuah unit di Depkes yaitu Dirjen P2MPL ( Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman ) menjadi Dirjen P2PL ( Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan ).

Tentang polemik “TELOR DADAR ( ATAU TELOR ASIN? )” dan “ESELON DUA” yang berkembang saat ini, Bangsa yang dikenal santun ini seharusnya belajar ( lagi ) tentang kesopan santunan dan etika menyampaikan pendapat dan menilai. Seharusnya baik buruknya kepemimpinan di masa lalu dijadikan ladang penelitian yang akan berbuah sesuatu yang lebih baik di masa ini. Dan penilaian baik buruk kepemimpinan saat ini tidak bisa dinilai saat para pemimpin baru saja seumur jagung menjabat.

Akhirnya, titip salam dari seorang teman dan ucapan dari saya “selamat buat dr. Endang Rahayu Sedyaningsih atas pengangkatannya sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dan ucapan terima kasih yang besar dari saya untuk dr. Siti Fadilah Supari atas kerja keras dan semangatnya selama ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s